Semanis Gula, Segurih Kelapa

loading...

Akhir Tragis Sang Kolonel Flamboyan

Khadafi pada Peringatan 40 tahun Revolusi Libya 2009
Berita kematian Muamar Khadafi menjadi "headline" media massa diberbagai belahan dunia. Sepak terjang mantan Pemimpin Libya Muammar Khadafi berakhir tragis. Tokoh yang terlahir pada 7 Juni 1942 ini tewas di kota kelahirannya, Sirte, Libya, kemarin.

Dia tewas tertembus peluru pejuang revolusioner yang melakukan serangan pamungkas untuk membebaskan satu-satunya daerah yang masih dikuasai loyalis mantan penguasa Libya berjuluk brother leader ini. Para pendukung rezim baru Dewan Transisi Nasional (NTC) menyambut kabar itu dengan sukacita setelah mereka berperang selama delapan bulan melawan loyalis Khadafi.


Dengan kematiannya ini, Khadafi seperti membuktikan sumpahnya beberapa waktu yang lalu, bahwa dia tidak akan pergi meninggalkan Libya walaupun harus menjadi martir untuk negara yang dipimpinnya selama ini.

Semasa hidupnya kata kontroversial rasanya tak pernah hilang dari sosok Muammar Khadafi. Sepanjang riwayatnya, pria berperangaim keras ini dikenal sebagai pemimpin yang lain dari yang lain. Dia berani, tegas, dan tak takut untuk berpendirian.

Khadafi dikenal sebagai salah satu dari segelintir pemimpin dunia yang berani mengatakan tidak atas keperkasaan Amerika Serikat (AS).Pria yang mulai berkuasa pada 1 September 1969 ini memperlihatkan diri sebagai orang yang mampu menolak untuk tunduk kepada negara adikuasa itu selama bertahun-tahun. Jiwa berjuang sudah terpupuk di dalam sanubari Khadafi sejak muda.

Dia adalah pengagum pemimpin Mesir dan nasionalis Arab Gamal Abdel Nasser dan bahkan ikut demonstrasi anti-Israel saat krisis Suez pada 1956. Khadafi naik takhta sebagai presiden pada 1969 saat berusia 27 tahun ketika memimpin kudeta yang menggulingkan monarki pro- Barat Libya, Raja Idris.
Saat-saat pertama memegang tapuk pimpinan di Libya
Tapi, sebenarnya, dia sudah lama berencana melakukan penggulingan itu.Tepatnya setelah memilih drop out dari Universitas Benghazi dan masuk ke akademi militer. Di tempat itulah, untuk kali pertama,dia menyusun rencana menggulingkan monarki.

Rencana itu tampak menunjukkan kenyataan setelah dia lulus dari pelatihan militer di Inggris dan kembali ke Benghazi. Pada 1 September 1969,dia mengudeta raja. Setelah berkuasa,Khadafi menempatkan filsafat politik berbasis ide pan-Afrika, pan- Arab dan anti-imperialis, dicampur dengan beberapa aspek Islam.

Dipandang AS sebagai tokoh yang tidak menanamkan demokrasi di negaranya, Khadafi menyerang balik pengkritiknya itu dengan menguliahkan demokrasi kepada akademisi Negeri Paman Sam di Colombia Univeristy, New York, via satelit pada 2006.

“Tidak ada negara lain di dunia ini yang menerapkan demokrasi selain Libya,”tandas Khadafi dan menyebut demokrasi Barat “palsu” dan “konyol”. Bagi Khadafi, tak ada sistem yang lebih baik daripada sistem jamahiriya atau negara massa. Menurut dia, sistem itu memberikan kesempatan mendasar bagi rakyatnya di Libya untuk mengungkapkan pandangan mereka di “kongres rakyat”.

Sistem itu dia kembangkan pada 1977. Sistem itu berarti bahwa kekuasaan dipegang ribuan komisi rakyat. Filosofi politiknya dia tulis dalam sebuah buku,Green Book,yang berisi alternatif bagi sosialisme dan kapitalisme yang dikombinasikan dengan aspek Islam.

Selama berkuasa, Khadafi dikaitkan pada serangkaian serangan teror internasional. Dia juga dituduh menggunakan kekayaan minyak negaranya untuk mendanai dan mempersenjatai kelompok pemberontak di seluruh Afrika dan sekitarnya.

Sementara dalam kebijakannya, pria yang menikah dua kali itu mengizinkan swasta mengontrol perusahaan kecil,sedangkan pemerintah mengontrol perusahaan yang lebih besar. Sebagai anggota kuat Gerakan Non-Blok (GNB) pada era Perang Dingin, Khadafi berusaha membentuk sistem politik Libya dengan cara yang dia sebut sebagai alternatif bagi kapitalis dan komunis.

Dia memerankan peranan penting dalam mengorganisasi oposisi Arab terhadap kesepakatan damai di Camp David pada 1978 antara Mesir dan Israel. Mantan pemimpin Libya itu juga mengatakan apa yang sering dilihatnya sebagai kesulitan terbesar pemerintahan di Timur Tengah dalam menghadapi oposisi politik yang berasal dari para pembangkang.

“Di Timur Tengah,oposisi itu berbeda dengan yang ada di negara yang sudah maju.Di negara kami, oposisiberasal dari tindakan peledakan, pembunuhan, dan penyiksaan,” ungkapnya seraya menyebut negara-negara Timur Tengah itu “ketinggalan zaman”.

Sebagai seorang pemimpin yang menentang kekuasaan besar AS, Khadafi tak jarang menemukan dirinya di tengah-tengah perseteruan dengan Washington. April 1986,pesawat tempur AS menyerang Libya sebagai balas dendam atas pengeboman sebuah tempat disko di Berlin yang menewaskan tiga orang, termasuk dua tentara AS.

Saat itu, Presiden AS Ronald Reagan menyebut Khadafi sebagai “anjing gila”. Serangan itu menewaskan lebih dari 60 orang, termasuk putri angkat Khadafi yang berusia 15 bulan dan nyaris membunuh Khadafi.
Sikap keras kepalanya membuat dia banyak dibenci pemimpin AS
Tensi hubungan antara AS dan Libya diperparah dengan penolakan Khadafi menyerahkan dua tersangka pengeboman pesawat Pan Am yang menewaskan 256 orang di Lockerbie. Namun, setelah menghadapi sanksi perekonomian berkepanjangan, sang kolonel akhirnya “menyerah”. April 1999, dia menyerahkan dua warga Libya yang dituduh dalam pengeboman Pan Am.

Pemerintahan Bill Clinton saat itu meresponsnya dengan melakukan pembicaraan rahasia dengan Tripoli. Memasuki era 2000-an, Khadafi melunak. Pada 2003, Libya sepakat memberikan kompensasi kepada seluruh keluarga korban Lockerbie.
Tragedi Lockerbie yang menjadikan Libya diembargo PBB
Dia juga mengecam terorisme dan mengumumkan bahwa dia menyerahkan impiannya untuk membuat senjata pemusnah massal menyusul tergulingnya Saddam Hussein dari Irak dalam invasi pimpinan AS. Pengumuman itu membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencabut sanksi.

Pengumuman itu juga mengubah hubungan Libya dengan Barat yang ditandai dengan kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) saat itu Condoleezza Rice. Setelah digulingkan pada Agustus lalu, diketahui bahwa Khadafi adalah seorang pengagum menlu wanita berkulit hitam tersebut.

Selama berkuasa, dia dikenal sebagai pemimpin yang nyentrik. Ketika berada di luar negeri, dia tidak mau tinggal di hotel mewah dan memilih mendirikan tenda mewah baduinya. Dia juga selalu ditemani pengawal wanita bersenjata.

Di tenda itulah Khadafi selalu menerima tamu-tamunya dengan jubah warna-warninya. Dalam sebuah kawat diplomatik AS yang dibocorkan WikiLeaks, Khadafi disebut selalu didampingi seorang perawat berambut pirang yang sangat cantik.
Pengawal Pribadi Khadafi
Meski dipandang kontroversial, Khadafi melihat dirinya sebagai seorang intelektual.

“Sebagai seorang pria,dia sangat filosofis dan bagi seorang autokrat, dia sangat reflektif dalam temperamennya,” papar Benjamin Barber, seorang analis politik independen dari AS yang beberapa kali bertemu Khadafi untuk membahas masa depan Libya.

“Saya melihatnya sebagai seorang anggota suku Berber, orang yang datang dari budaya yang terbentuk dari gurun, dari pasir dan di beberapa cara sangat tidak normal bagi kepemimpinan modern dan itu memberikannya ketahanan dan ketekunan.

”Khadafi dikenal dengan ucapan-ucapan provokatifnya di panggung internasional. Pada Juli 2009, dia mengecam Dewan Keamanan PBB dengan menyebutnya sebagai bentuk “terorisme” dalam sebuah pidato di KTT GNB. Sebelumnya, pada Maret tahun yang sama, dia mengeluarkan kecaman terhadap RajaArab SaudiAbdullah di sebuah KTT Arab.

“Anda itu selalu bohong dan menghadapi kuburan dan Anda itu dibuat Inggris dan dilindungi AS,” ujar Khadafi kala itu sebagaimana dikutip AFP. Khadafi juga bisa dianggap seorang narsis yang cepat memuji diri sendiri.

“Saya pemimpin Arab, raja diraja Afrika,dan imam Muslim,” ujar Khadafi dalam kutipannya yang terkenal. Selama berkuasa, Khadafi tidak pernah mengambil titel resmi sebagai presiden Libya. Dia secara resmi dikenal sebagai “pemandu revolusi” setelah memproklamasikan Libya sebagai jamahiriya atau “negara massa”yang dijalankan komisi lokal pada Maret 1977. Kini pria nyentrik itu telah tiada.

Setelah Tripoli jatuh ke tangan Dewan Transisi Nasional (NTC) menyusul pemberontakan yang meletus pada Februari 2011 lalu, Khadafi memilih meninggalkan kota itu dan terus melancarkan perlawanan. Pria 8 putra dan putri itu lari menuju kota kelahirannya, Sirte dan kemarin, mengembuskan napas terakhirnya di kota itu.

Biografi Muamar Khadafi

Nama: Muammar Muhammad Abu Minyar al-Gaddafi

Lahir : Surt, Tripolitania di gurun pasir kota kecil Sirte, Libya, 7 Juni 1942

1963 : Masuk Akademi Militer di Benghazi

1965 : Lulus dari Akademi Militer, kemudian melanjutkan pendidikan militernya ke Britania

1966 : Lulus dari pendidikan militer di Inggris sebagai opsir dalam Korps Sinyal

1969 : Kapten Muammar Khadafi pada usia 27 tahun memimpin Revolusi Al Fatah yang kemudian berhasil menyingkirkan Raja Idris yang didukung Amerika dan mulai memimpin di Libya.

1975 : Khadafi menguraikan filsafat politiknya dalam "The Green Book".

2002 : Khadafi berpendapat untuk penciptaan sebuah "United States of Africa" - di mana benua itu akan mencakup "kekuatan militer tunggal Afrika, mata uang tunggal, dan paspor tunggal untuk Afrika.

2009-2010 : Menjadi ketua Uni Afrika

20 Oktober 2011 : Pemimpin Libya selama 42 tahun itu dikabarkan tewas di kota kelahirannya Sirte, setelah terjadi baku tembak dengan para tentara Dewan Transisi Nasional Libya (NTC).
Back To Top